Senin, 01 April 2013

malas~


artikel

Rasanya banyak diantara kita yang punya “penyakit” suka menunda-nunda pekerjaan. Penyakit ini, yang sebetulnya adalah kebiasaan, seringkali disebabkan karena kita malas mengerjakan sesuatu. Malas bangun dari tempat tidur, malas pergi olahraga, malas menyelesaikan tugas kantor, dll.

Menurut penelitian, kebiasaan malas merupakan penyakit mental yang timbul karena kita takut menghadapi konsekuensi masa depan. Yang dimaksud dengan masa depan ini bukan hanya satu atau dua tahun kedepan tetapi satu atau dua menit dari sekarang. Contohnya saja ketika Anda malas dari bangun, Anda akan berkata dalam hati: “Satu menit lagi saya akan bangun”, tetapi kenyataannya barangkali Anda akan berlama-lama di tempat tidur sampai akhirnya memang waktunya tiba untuk siap-siap pergi ke kantor.

Kebiasaan malas timbul karena kita cenderung mengaitkan masa depan dengan persepsi negatif. Anda menunda-nunda pekerjaan karena cenderung membayangkan setumpuk tugas yang harus dilakukan di kantor. Belum lagi berhubungan dengan orang-orang yang Anda tidak sukai, misalnya.

Sayangnya, menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan mengundang stress karena mau tidak mau satu saat Anda harus mengerjakannya. Di waktu yang sama Anda juga mungkin punya banyak pekerjaan lain.
Dalam beberapa hal, Anda pun mungkin akan kehilangan momen untuk berkembang ketika Anda mengatakan “tidak” terhadap sebuah kesempatan –Anda malas bertindak karena bayangan negatif tentang hal-hal yang memberatkan didepan.

Di artikel ini saya ingin memberikan beberapa tips untuk mengatasi rasa malas. Tips ini bisa Anda praktekkan di tempat kerja ataupun lingkungan keluarga:

Ganti “Kapan Selesainya” dengan “Saya Mulai Sekarang”

Apabila Anda dihadapkan pada satu tugas besar atau proyek, Anda sebaiknya JANGAN berpikir mengenai rumitnya tugas tersebut dan membayangkan kapan bisa diselesaikan. Sebaliknya, fokuslah pada pikiran positif dengan membagi tugas besar tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikannya satu demi satu.

Katakan setiap kali Anda bekerja: “Saya mulai sekarang”.
Cara pandang ini akan menghindarkan Anda dari perasaan terbebani, stress, dan kesulitan. Anda membuat sederhana tugas didepan Anda dengan bertindak positif. Fokus Anda hanya pada satu hal pada satu waktu, bukan banyak hal pada saat yang sama.

Ganti “Saya Harus” dengan “Saya Ingin”

Berpikir bahwa Anda harus mengerjakan sesuatu secara otomatis akan mengundang perasaan terbebani dan Anda menjadi malas mengerjakannya. Anda akan mencari seribu alasan untuk menghindari tugas tersebut.

Satu tip yang bisa Anda gunakan adalah mengganti “saya harus mengerjakannya” dengan “saya ingin mengerjakannya”. Cara pikir seperti ini akan menghilangkan mental blok dengan menerima bahwa Anda tidak harus melakukan pekerjaan yang Anda tidak mau.

Anda mau mengerjakan tugas karena memang Anda ingin mengerjakannya, bukan karena paksaan pihak lain. Anda selalu punya pilihan dalam kehidupan ini. Tentunya pilihan Anda sebaiknya dibuat dengan sadar dan tidak merugikan orang lain. Intinya adalah tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa Anda melakukan apa saja yang Anda tidak mau lakukan.

Anda Bukan Manusia Sempurna

Berpikir bahwa Anda harus menyelesaikan pekerjaan sesempurna mungkin akan membawa Anda dalam kondisi mental tertekan. Akibatnya Anda mungkin akan malas memulainya. Anda harus bisa menerima bahwa Anda pun bisa berbuat salah dan tidak semua harus sempurna.

Dalam konteks pekerjaan, Anda punya kesempatan untuk melakukan perbaikan berulang kali. Anda selalu bisa negosiasi dengan boss Anda untuk meminta waktu tambahan dengan alasan yang masuk akal. Mulai pekerjaan dari hal yang kecil dan sederhana, kemudian tingkatkan seiring dengan waktu. Berpikir bahwa pekerjaan harus diselesaikan secara sempurna akan membuat Anda memandang pekerjaan tersebut dari hal yang besar dan rumit.

Saya harap tulisan ini berguna. Kemalasan merupakan sesuatu yang normal dalam hidup Anda. Karena dia normal maka dia pun bisa diatasi. Tiga tips diatas bisa menjadi awal untuk berpikir dan bertindak berbeda dari biasanya sehingga Anda tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang hanya karena malas mengerjakannya.

bakat menulis???


Orang suka membaca surat kabar karena isinya yang beraneka ragam. Membaca surat kabar seperti masuk ke dalam supermarket informasi. Kita disajikan dengan berbagai jenis tulisan, seperti berita, feature, tajuk, opini, kolom, surat pembaca, lowongan dan iklan. Ada juga hiburan seperti cerita fiksi, karikatur dan foto. Anda tidak hanya bisa menikmati tulisan-tulisan ini, tetapi Anda juga bisa menjual tulisan Anda! Banyak media massa yang membuka kesempatan bagi Anda untuk berkarya, salah satunya dengan mengirimkan opini. Opini adalah tulisan yang berupa pendapat seseorang atau lembaga. Segala sesuatu yang bukan berita disebut opini.
Opini dapat dikategorikan dalam dua jenis. Pertama, opini yang mewakili lembaga disebut tajuk, pojok, opini atau rubrik. Kedua, opini yang mewakili perorangan disebut kolom. Tidak ada referensi yang pasti tentang asal usul mengapa sebuah rubrikasi tulisan opini di sebuah media massa cetak itu disebut sebagai kolom. Pada dasarnya, kolom adalah salah satu jenis tulisan artikel ilmiah populer yang muncul di media massa cetak.
Bentuk tulisan kolom, sebagaimana opini dan editorial, sesungguhnya sudah bukan lagi ragam berita, tetapi tulisan jenis ini adalah jenis artikel populer gagasan atau pendapat murni dari penulis. Hanya saja, karena jenis artikel ini muncul sebagai tulisan di media massa, maka seringkali masih digolongkan sebagai ragam penulisan jurnalistik, meskipun sebenarnya secara hakiki jenis tulisan itu sudah bukan lagi karya jurnalistik. Oleh karenanya, bentuk ini juga sering disebut sebagai ragam penulisan ilmiah populer.
Antara Opini dan Kolom
Opini lebih mendekati bentuk argumentasi, yaitu pemaparan yang intinya menggiring opini orang atau meyakinkan orang lain agar sepakat dengan ide atau pandangannya. Tentu saja, penulisan jenis ini juga harus disertai dengan referensi yang ada dan bersifat argumentatif. Pada opini orang dihadapkan pada pertanyaan "mengapa".
Kolom sesungguhnya masih merupakan ragam opini. Hanya saja gaya penulisannya cenderung sangat santai, dengan menyertakan idiom-idiom tertentu. Kolom barangkali boleh disebut sebagai artikel subjektif. Tulisan ini biasanya bersifat renungan, reflektif dengan gaya humor dan satir. Gaya individual sang penulis sangat lekat dalam jenis tulisan seperti ini.
Kolom adalah tulisan sederhana tentang berbagai hal yang ada di sekitar kita. Tulisan ini biasanya menggunakan bahasa yang mudah dipahami, merakyat, sinis, kadang juga penuh canda. Berbeda dengan opini, misalnya. Walaupun harus tetap dengan bahasa populer tetapi opini tak lazim kalau dibuat dengan cara bercanda.
Apa Saja yang Bisa Ditulis?
Dalam tulisan kolom, apa saja bisa menjadi bahan tulisan, bahkan hal-hal yang sering kali mengabaikan aktualitas. Banyaknya anak-anak jalanan di sekitar Bangjo lalu lintas, di tangan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) akan menjadi kolom yang sangat analitis dan mengesankan. Dengan berbagai pandangan yang merakyat khas Kyai Kanjeng tentunya. Lalu lalang Bus Kota, banyaknya pedagang dadakan, menjadi inspirasi tersendiri bagi Gus Dur untuk menuliskannya dalam kolom. Putu Setia, seorang praktisi jurnalistik mengatakan bahwa baik opini maupun kolom menyoroti sebuah berita aktual dengan memberi pendapat-pendapat, baik saran, solusi, kritik dan sebagainya. Apa pun bisa dipermak menjadi sajian kolom yang memikat.
Victor Silaen, seorang penulis media massa, mendapatkan ide-ide menulis dengan menulis secara rutin. Dia biasanya mengonsumsi berita dari radio, koran dan televisi setiap hari. Majalah, tabloid, dan media-media maya merupakan menu tambahannya. Kita harus merasakan ada "sesuatu" yang penting untuk kita angkat dalam sebuah tulisan setiap kali kita mendengar, melihat, menonton sesuatu, atau juga mengalami sesuatu. Di dalam "sesuatu" itulah terkandung ide atau ilham, yang harus kita ingat dan pikirkan terus hingga akhirnya dituang menjadi sebuah tulisan.
Pemula Menulis Kolom?
Bolehkah kemudian sebagai pemula menulis kolom? Tidak ada yang melarang! Dengan ketekunan, kesabaran untuk menyampaikan naskah-naskah tulisan dengan gaya tulisan kolom seorang pemula pun bisa jadi akan menjadi perhatian media massa. Menulis adalah keterampilan. Seperti keterampilan bersepeda, menyetir mobil, atau berenang, tanpa bersentuhan langsung dengan tindakan menulis, kita tidak akan bisa menulis. Sebagai keterampilan, menulis bisa dipelajari. Setiap orang mampu menjadi penulis. Sebab, kemampuan menulis tidak tergantung bakat -- walaupun bakat diperlukan untuk "keindahan" tulisan, membuat sebuah tulisan menjadi "berseni". Orang yang tak berbakat pun bisa jadi penulis jika dia sering berlatih menulis. Bakat adalah urusan orang-orang terpilih, segelintir orang yang mendapat berkah. Adapun kemampuan menulis diperuntukkan bagi siapa saja, tak kenal kasta, status, suku dan agama.
Penulis yang baik adalah orang yang mampu menulis dengan baik kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Penulis yang baik tidak hanya mengandalkan inspirasi. Juga tidak hanya mengandalkan suasana hati. Dia menggunakan seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan konkretnya saat menulis. Penulis yang baik juga mampu merangsang dirinya untuk menciptakan suasana hati yang mendukungnya menulis. Dia mampu menyemangati dirinya agar dapat menulis di mana saja dan kapan saja. Dia mengolah pikiran, perasaan, dan tindakan serta dicurahkan dalam bentuk tulisan agar dapat disebarkan kepada orang lain. Penulis yang baik mau berbagi cerita dengan banyak orang lewat tulisannya. Dia adalah seorang dermawan yang mau berbagi pengetahuan dengan siapa saja.
Menjajakan Tulisan
Untuk mengirim tulisan ke media publik, mulailah dari media-media yang berskala "kecil" dan perlahan-lahan baru ke media-media berskala "besar". Mulailah dari tulisan-tulisan yang "ringan" baru kemudian ke tulisan-tulisan yang "berat".
Dalam kaitan itu juga, kita perlu mengenali karakter media yang akan menjadi target kita. Perhatikan soal durasinya, tema-tema favoritnya, aktualitasnya, gaya bahasanya, dan lain-lain. Kalau rasanya semua "syarat" itu sudah kita penuhi, maka kirimlah. Sekarang cukup dengan email saja. Kalau ada beberapa alamat email, kirimlah ke semua alamat itu. Jangan lupa sebutkan alamat dan ponsel kita. Nomor rekening bank kita tidak usah disebutkan, kecuali nanti kalau sudah dimuat.

writing 2


Melatih Kemampuan Menulis pada Anak dan Siswa
Tentunya setiap orang menginginkan anaknya untuk dapat menulis sebuah rangkaian cerita, agar kelak anak kita tidak mengalami kesulitan saat mendapatkan tugas-tugas dari sekolah atau paling tidak dapat menyelesaikannya dengan baik.
Sering kali kita sebagai orang tua menyerahkan sepenuhnya pada pihak sekolah untuk semua materi yang diberikan, padahal kemampuan anak akan lebih terasah dan terlatih dengan baik bila ada kesinambungan antara orang tua dan pihak sekolah. Bukankah kita menginginkan agar anak kita dapat menyerap semua pembelajaran di sekolah dengan baik?
Saya mencoba memberikan gambaran mengenai, Bagaimanakah kita sebagai orang tua dapat melatih kemampuan menulis pada anak-anak kita?
1. Usahkan setiap hari, anak kita diberikan buku cerita sesuai dengan usianya, diskusikan apa yang sudah dibaca/dibacakan kemudian kita minta anak untuk menceritakan kembali sesuai dengan bahasanya. Dengan membaca buku/cerita, kemampuan bahasa anak akan semakin bertambah dan itu pula yang akan mengembangkan kemampuannya dalam menulis. Membaca membuat kosa kata anak semakin bertambah, terarah serta tertata karena dengan demikian kemampuan menulis anak semakin terstruktur.
2. Saat melatih menulis pada anak lakukan beberapa tahap, tahap pertama adalah anak diminta untuk menceritakan suatu gambar yang kita minta untuk dia buat sendiri, tujuannya adalah mengembangkan daya imajinasi anak diawali dengan gambar yang dia buat. Contoh : seorang anak menggambar suatu bentuk tak beraturan, pancing dia untuk menceritakan isi dari gambar yang dia buat lalu kita bantu dia menuangkannya lewat sebuah tulisan sesuai dengan yang dia ceritakan dan bila anak sudah mampu untuk menulis sendiri biarkan anak untuk menuliskannya sendiri. Setelah itu kita bahas kembali gambar dan tulisan yang sudah tertera dalam buku tersebut. Hargai apapun yang anak buat dengan memberikan reward sehingga anak akan semakin menyenangi kegiatan yang kita buat bersama.
Contoh gambar :
a. Tanyakan pada anak/siswa, gambar apakah ini. Saat siswa menceritakan gambarnya tulis sesuai dengan alur kata dan pemikirannya.
Misal : bu/bu guru aku menggambar tikus, tikus di rumahku banyak suka makan yang ada di rumahku.
b. Pancing kembali anak apakah masi ada hal lainnya. Bila ada tulis kembali. Tetapi bila anak sudah mampu menulis sendiri biarkan dia untuk menulis dan bila ada kesulitan untuk menulis kita arahkan.
c. Lakukan ini sampai imajinasi anak berkembang dan tidak banyak bantuan kita.
https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSIMrVU2_CN3gW-uJldofxve0RHYaEqGNeGM9JZhDYp1wVbl9Hb
(tuliskan diantara gambar yang anak buat sesuai pemikirannya)
3. Tahap kedua adalah ketika anak sudah terarah dengan imajinasinya kembangkan dengan menghubungkan gambar dengan suatu cerita. Contoh :
1360307579952371774

Kucing                                            binatang peliharaan ku
Anak diminta untuk membacakannya dengan bantuan kita dan bisa dimodifikasi kembali sesuai dengan tingkat kemampuan anak/siswa
4. Tahap ketiga, dengan mengikuti tahap 1 dan 2 otomatis imajinasi anak semakin bekembang selain kosa kata anak semakin bertambah berikan dengan tahapan ketiga yaitu berikan gambar sederhana yang sudah kita persiapkan dan bantu dengan beberapa kata sebagai alat bantu untuk mengembangkan gambar yang kita sediakan. Contoh :
a. Gambar apakah ini?
b. Siapa yang suka buah ini?
c. Mengapa kamu suka buah ini?
d. Dimana kamu bisa mendapatkan buah ini?
e. Bagimana rasanya buah ini?
1360308047203940028
Tuliskan semua jawaban anak, lalu bacakan kembali. Anda memberikan dengan gambar yang berbeda agar anak tidak jenuh. Berikan reward agar anak termotivasi untuk telus menulis.
5. Tahap keempat, berikan kembali gambar sederhana dengan dua karakter berbeda masih dengan alat bantu kata yang kita sediakan. Contoh :
http://sofie05.files.wordpress.com/2010/06/upinipin3.jpg?w=570
Bantu dengan kata Siapa, apa, kapan, dimana, menagapa, bagaimana. Buatlah pertanyaan lebih kreatif, menarik, menyenangkan dan pertanyaan sekitar gambar tersebut. Buatlah rangkaian cerita dari pertanyaan yang dibuat.
Contoh :
Upin dan ipin, adalah dua saudara kembar yang saling mengasihi. Mereka senang sekali bermain tetapi mereka rajin belajar.
Selepas sekolah, mereka bermain dengan teman-temannya……..(dan selanjutnya)
6. Tahap kelima, berikan kembali anak dengan gambar yang lebih kompleks dan sediakan kata pembantu tetapi lebih sedikit dibandingkan dengan tahap-tahap yang lalu. Contoh :
http://tegalbahari.com/wp-content/uploads/2011/12/tanam-pohon.jpg
Apa yang kau lihat dan rasakan pada gambar ini? (ini hanya contoh gambar kita bisa memilih gambar lainnya).
7. Tahap keenam, adalah gambar yang lebih komplek tetapi tidak menggunakan alat bantu kata yang kita sediakan. Anak diminta oleh kita untuk menuliskan sebuah rangkaian cerita dalam satu gambar. Contoh :
https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS0j9WVxBoSW4QXeM_OhNbLfghgh-Rd_O2kgaHz2Zd6mxHtR7ih
Lihat perkembangan menulis anak, mulai banyak berlatih melalui gambar dan tingkatkan terus dengan gambar-gambar yang lebih bervariasi. Berikan reward atas kemampuannya, terus dorong anak untuk membuat tulisan kembali
8. Tahap ketujuh, anak disediakan beberapa gambar yang komplek dan anak diminta untuk membuat rangkaian cerita dari gambar tersebut. Contoh ;
https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT5pR5WPYlchYr9XO7iDONo2xBZn28JcVY7nf43KnyYMYMcvhryVQ
https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ9psFM0M3ccf1T0p2f1uak0IwJaEwD-brxIvsWpOtG5_C_qF4Jxw
Buat cerita dalam beberapa rangkaian gambar, sediakan gambar yang lebih variatif dan ceritanya.
9. Tahap kedelapan adalah, bawa anak ke suatu tempat yang paling dia sukai dan di tempat itu pula minta anak untuk membuat pengalaman yang ia rasakan saat berada di tempat tersebut. Berikan anak kesempatan untuk menulis dan usahakan agar anak mampu mengembangkan bahasa tulisannya sendiri.
10. Tahap selanjutnya adalah setelah anak mampu mengembang ide cerita yang sesuai dengan pengalamannya, biasakan anak untuk terus menulis disaat dia merasakan sesuatu dari kesehariannya. Bila tahapan ini sudah mampu anak jalani kembangkan dengan melakukan survey beberapa buku dan tuangkan dalam bentuk tulisan sesuai dengan perkembangannya.
Saya yakin anak kita akan terbiasa menulis jika kita sebagai orang tua mampu mengembangkannya. Menulis itu bukan hanya bakat tapi kemampuan yang membutuhkan proses yang panjang dan terarah.
Bahasa anak pun akan berkembang lebih baik dan terstruktur, dan arahkan anak pada kemampuan menulis sesuai dengan minatnya.
Ayo terus kembangkan kemampuan menulis pada anak kita sehingga anak akan terbiasa dan membantu program sekolah dan memudahkan kita mengontrol perkembangan anak kita.

writing


Menulis
Apa itu menulis? menulis adalah berkomunikasi secara tertulis dengan mengkomunikasikan pikiran, perasaan, dan kemauan secara tertulis sehingga dapat dimengerti oleh pembaca. Suatu tulisan dapat menyenangkan untuk dibaca apabila ditata sedemikian rupa, sehingga akan merupakan rangkaian kata dan kalimat yang baik secara kohesi maupun koherensi dengan menggunakan kata penghubung dan kata ganti untuk membuat kalimat-kalimat sederhana maupun kalimat yang kompleks. Seseorang yang dapat menyusun gagasan-gagasannya dengan baik tersebut diperlukan kemampuan menulis.
Menulis sesungguhnya membutuhkan banyak waktu, tenaga, keterampilan, dan juga perhatian. Menulis juga menghendaki penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar kebahasaan itu sendiri yang akan menjadi isi karangan. Dalam hal ini baik unsur bahasa maupun unsur isi haruslah ditata sedemikian rupa, sehingga tersusun suatu karangan yang runtut dan padu.
Jika dalam kegiatan berbicara seseorang harus menguasai lambang-lambang bunyi, maka dalam kegiatan menulis seseorang hendaknya menguasai lambang-lambang atau simbol-simbol visual atau aturan tata tulis, khususnya yang menyangkut masalah ejaan. Kelancaran komunikasi dalam suatu karangan sama sekali tergantung dari bahasa yang dilambang visualkan. Agar komunikasi lewat lambang tulis dapat seperti yang diharapkan. Penulis hendaklah menuangkan gagasannya ke dalam bahasa yang tepat, teratur dan lengkap.
Kemampuan menulis itu kompleks dan kadang-kadang sukar untuk diajarkan. Kemampuan itu tidak hanya tentang penugasan gramatikal atau retorikal, tetapi juga menyangkut elemen-elemen konseptual dan penilaian. Analisis berikut bersangkut paut dengan kelompok kemampuan yang bervariasi yang diperlukan untuk menulis karangan eksposisi yang baik. Pengelompokan yang umum dan yang pokok sebagai berikut: 1) penggunaan bahasa yaitu, kemampuan untuk menulis yang benar dengan kalimat-kalimat yang baik, 2) kemampuan-kemampuan mekanik yaitu, kemampuan untuk menggunakan secara benar aturan khusus untuk bahasa tulis, misalnya, tanda baca (pungtuasi), ejaan, 3) perlakuan isi yaitu, kemampuan untuk berpikir secara kreatif dan mengembangkan pikiran-pikiran, termasuk semua informasi yang tidak relevan, 4) keterampilan-keterampilan gaya bahasa yaitu, kemampuan untuk memanipulasi kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf dan menggunakan bahasa secara efektif, 5) keterampilan-keterampilan menilai, untuk menulis materi-materi yang sesuai untuk tujuan khusus dengan pemikiran pembaca, bersama-sama dengan kemampuan menyeleksi, mengorganisasikan, dan mengurutkan informasi yang relevan.
Selamat menulis.