Minggu, 29 September 2013

senja dipelabuhan kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

nisan



Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertakhta

tak sepadan



Aku kira :

Beginilah nanti jadinya

Kau Kawin, beranak dan berbahgia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

 

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka

 

Jadi baik juga kita padani

Unggunan api ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa

Aku terpanggang tingal rangka

ajakan


Ida

Menembus sudah caya

Udara tebal kabut

Kaca hitam lumut

Pecah pencar sekarang

Di ruang legah lapang

Mari ria lagi

Tujuh belas tahun kembali

Bersepeda sama gandengan

Kita jalani ini jalan

 

Ria bahgia

Tak acuh apa-apa

Gembira-riang

C[Biar hujan Datang

Kita mandi-basahkan diri

Tahu pasti sebentar kering lagi.

pelarian


Tak tertahan lagi

Remang miang sengketa disini

 

Dalam lari

Dihempaskannya pintu keras tak terhingga

 

Hancur-lelah sepi seketika

Dan paduan dua jiwa.

aku


Kalau sampai waktuku

‘ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

 

Tak perlu sedu sedan itu

 

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

 

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

 

Lua dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

 

Dan aku akan lebih tidak peduli

 

Aku mau hidup seribu tahun lagi

hukum

Saban sore ia lalu depan rumahku

Dalam baju tebal abu-abu

 

Seorang jernih memikul. Banyak menangkis pukul.

 

Bungkuk jalannya – Lesu

Pucat mukanya – Lesu

 

Orang menyebut satu nama jaya

Mengingat kerjanya dan jasa

 

Melecut supaya terus ini padanya

 

Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga

 

Pelik di angkasa : Perwira muda

Pagi ini menyinar lain masa

 

Nanti, kau dinanti-dimengerti!